Makna Prosesi ‘Meleum Harupat’ dalam Adat Sunda

Makna Prosesi ‘Meleum Harupat’ dalam Adat Sunda

Pernah mendengar Meleum Harupat?
Tradisi Meleum Harupat atau membakar harupat adalah prosesi yang biasa digunakan dalam pernikahan adat Sunda. Dalam bahasa Sunda, meuleumberarti membakar, sedangkan harupatmerupakan bagian dari tanaman aren. Harupat sendiri sangat mudah terbakar dan patah, hal tersebut menggambarkan sifat yang ada dalam diri manusia yaitu mudah marah.
Sesuai dengan arti namanya, adat pernikahan yang satu ini benar-benar melakukan prosesi bakar harupat. Kedua calon mempelai berdiri berhadapan sembari membawa harupat dan lilin. Prosesi ini dimulai dengan membakar tujuh tangkai harupat atau lidi yang dipegang oleh mempelai pria untuk disulut api oleh mempelai wanita. Harupat yang sudah dibakar pun ditiup pengantin pria kemudian oleh pengantin wanita kemudian dimasukkan ke dalam kendi berisi air hingga padam, lalu dipatahkan dan dilemparkan ke belakang oleh mempelai tanpa menoleh. Selanjutnya, kendi di pegang oleh kedua pengantin, pengantin pria memegang bagian bawah kendi dan pengantin wanita memegang bagian atas, lalu di pecahkan bersama-sama atau dijatuhkan.

Di balik acara adat pernikahan ini, maknanya adalah bila istri sedang terbakar oleh amarah, maka tugas suami adalah memadamkan dan meredakan emosinya. Sedangkan fungsi istri dengan memegang kendi berisi air adalah untuk mendinginkan setiap persoalan yang membuat pikiran dan hati suami tidak nyaman. Secara keseluruhan, dalam tradisi Meleum Harupat ini bermakna sebagai peringatan bahwa tiap-tiap manusia dalam berumah tangga akan ada dihadapkan pada masa di mana masalah datang sebagai ujian dalam berumah tangga, untuk itu dengan adanya meuleum harupat ini sebagai nasihat bahwa ketika masalah itu datang harus dipecahkan secara bersama-sama.